Malam itu selepas jamaah Isya' di mushola, Tarjiyo berlari kecil menyusuri pemantang sawah. Bau hangus masih tercium setelah tadi siang sawah itu dibakar pasca panen. Sartinah mengikuti di belakang. Usianya 2 atau 3 tahun lebih muda dari Tarjiyo.
"Itu namanya Gubuk Penceng, dik." Sartinah menengok ke langit, mengikuti arah telunjuk Tarjiyo.
Malam itu cerah. Langit penuh bintang, bulan lebih terang dari biasanya.
"Sudah lihat belum, dek? Itu lho, yang bentuknya kayak layangan." Tarjiyo menoleh ke Sartinah yang masih bingung mencari. Sartinah mengangguk. Tersenyum kemudian. Akhirnya dia menemukan rasi bintang yang dimaksud Tarjiyo.
"Nah, yang di bawah Gubuk Penceng itu ada Galaksi Rahasia. Galaksi yang ndak terlihat." Sartinah makin bingung. Hanya ada area gelap di bawah kaki Gubuk Penceng. Tidak ada bintang. Padahal di sekelilingnya benda langit berkerumun. Bersinar.
"Mana, mas? Wong item gitu."
"Ya itu namanya Galaksi Cinta." Tarjiyo berucap asal. "Sebenarnya di sana ada galaksi besar banget, dik."
"Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, lihat saja ke langit. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi ndak kelihatan namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar