Rabu, 24 Juni 2015

Sebenarnya ini Sederhana

Kau tau
salah satu jalan untuk selalu menujumu
adalah dengan berdoa
atau dengan sajak yang tidak penting ini

Bukankah kita adalah sepasang kemauan
yang saling mencintai
kemudian mau tak mau
rela merawat rindu yang berjarak ratusan kilometer ini?

Atau hanya aku
yang setiap malam susah tidur
kemudian berpuisi sambil merindukanmu?

Kemudian
Sering ku temui jalan lain
Dengan bersumpah serapah pada waktu misalnya
Atau hanya berserah. Pasrah. 

Ini hanya sementara
semoga kita senantiasa tabah
katamu waktu itu

Padahal
akulah sang tabah
yang akan selalu mencari-cari jalan
menujumu

sederhana
karena aku mencintaimu


Aku. Debu di berandamu. Berkali-kali kau sapu, aku tetap kembali ke situ. Kau pikir mudah mengusir rindu?

Tapi tenang saja. Karena kepedihan tak pernah sanggup membuatku mengibarkan bendera putih, sebab membahagiakanmu adalah finisku.

Rabu, 17 Juni 2015

Kopiku Pagi Ini

Kuseduh secangkir kopi pagi ini. Lebih manis dari biasanya. Ah, mungkin aku terlalu banyak menuangkan cairan rindu di dalamnya.

Rabu, 03 Juni 2015

Kemudian ini kusebut Rindu

Merindukanmu membuat secangkir kopiku menjadi secangkir kesabaran
Setiap pagi

Kemudian ini kusebut rindu; setiap tetes gerimis yang jatuh di pipiku
Adalah ejaan namamu
Dan temu kita adalah pelanginya.

Senin, 01 Juni 2015

Kau tau? Mataku ada dalam tiap diksi tulisanku. Ketika kau tersenyum saat membacanya, akulah bahagia yang sedang mengintipmu. Senang melihatmu tersenyum. Manis.