Seorang lelaki ditemukan matim di ujung puisi yang ditulisnya sendiri.
Seorang mahasiswa ditemukan mati, di ujung proposal skripsi yang ditolak dosen pembimbingnya sendiri.
Senin, 03 November 2014
Minggu, 07 September 2014
Ku Cari Kamu
Bagaimana cara bertemu kamu? Aku harus berjalan atau berlari? Aku takut kamu terlewatkan dan aku mencarimu lagi.
Selasa, 02 September 2014
Kembang Api Milikku
Masuk bulan September. Pertanda musim panas telah usai. Liburan musim panas pun berakhir. Ahh, rasanya baru kemarin kita bersama pergi ke festival musim panas. Kamu memakai yukata merah muda terlihat sangat manis. Asyik sekali main pancingan ikan, kemudian kesal ketika ikan susah ditangkap. Jujur, wajah kesalmu terlihat sangat lucu bagiku.
Ingat kembang api di festival malam itu? Indah, kan? Namun sayang keindahannya hanya sebentar lalu hilang. Kuharap itu bukan kita. Yang hanya indah sesaat kemudian hilang.
Ingat kembang api di festival malam itu? Indah, kan? Namun sayang keindahannya hanya sebentar lalu hilang. Kuharap itu bukan kita. Yang hanya indah sesaat kemudian hilang.
Kamis, 28 Agustus 2014
Pergi Saja
Ya sudah, pergi saja jika ingin pergi. Hilang saja jika ingin hilang. Pergi ya pergi. Hilang ya hilang. Kau tau apa yang aku dapat sebagai gantinya?
Rindu...
Rindu...
Selasa, 12 Agustus 2014
Dik, kamu cantik. Tapi aku belum suka kamu. Enggak tau besok pagi. Tunggu aja. - Dilan, dengan sedikit perubahan.
Kamis, 07 Agustus 2014
Kisah Udin dan Cici
"Kalau ada yang cari, aku di lantai 5. Di meeting room. Mau meeting sama pihak katering dan hotel untuk persiapan seminar lusa." pesan Cici ke Udin, teman satu kubikelnya uang sedang sibuk dengan kertas warna-warni di atas mejanya.
Udin adalah pegawai baru di sana. Fresh Graduate. Masih semangat semangatnya kerja.
Memang di kubikel Cici ada satu meja kosong persis di depan dia. Setiap jenuh memandangi laptop, Cici suka curi-curi pandang ke Udin. Seringnya sih mata mereka bertemu. Lalu mereka saling membuang muka ke segala arah, pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Mereka sebenarnya saling suka. Tapi saling menyembunyikan. Dan saling menerka-nerka. Entah apa yang terjadi setelahnya.
Hehehe.
Udin adalah pegawai baru di sana. Fresh Graduate. Masih semangat semangatnya kerja.
Memang di kubikel Cici ada satu meja kosong persis di depan dia. Setiap jenuh memandangi laptop, Cici suka curi-curi pandang ke Udin. Seringnya sih mata mereka bertemu. Lalu mereka saling membuang muka ke segala arah, pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Mereka sebenarnya saling suka. Tapi saling menyembunyikan. Dan saling menerka-nerka. Entah apa yang terjadi setelahnya.
Hehehe.
Rabu, 06 Agustus 2014
Gubuk Penceng
Malam itu selepas jamaah Isya' di mushola, Tarjiyo berlari kecil menyusuri pemantang sawah. Bau hangus masih tercium setelah tadi siang sawah itu dibakar pasca panen. Sartinah mengikuti di belakang. Usianya 2 atau 3 tahun lebih muda dari Tarjiyo.
"Itu namanya Gubuk Penceng, dik." Sartinah menengok ke langit, mengikuti arah telunjuk Tarjiyo.
Malam itu cerah. Langit penuh bintang, bulan lebih terang dari biasanya.
"Sudah lihat belum, dek? Itu lho, yang bentuknya kayak layangan." Tarjiyo menoleh ke Sartinah yang masih bingung mencari. Sartinah mengangguk. Tersenyum kemudian. Akhirnya dia menemukan rasi bintang yang dimaksud Tarjiyo.
"Nah, yang di bawah Gubuk Penceng itu ada Galaksi Rahasia. Galaksi yang ndak terlihat." Sartinah makin bingung. Hanya ada area gelap di bawah kaki Gubuk Penceng. Tidak ada bintang. Padahal di sekelilingnya benda langit berkerumun. Bersinar.
"Mana, mas? Wong item gitu."
"Ya itu namanya Galaksi Cinta." Tarjiyo berucap asal. "Sebenarnya di sana ada galaksi besar banget, dik."
"Nanti, kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, lihat saja ke langit. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi ndak kelihatan namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ."
Senin, 04 Agustus 2014
Berkah di Bulan Syawal
Malam lebaran...
"Hai, apa kabar? Lebaran di mana nih? Cuma mau ngucapin minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir batin. Maafin ya kalo aku banyak salah sama kamu. Sering buat kamu bete, nyebelin. hehe. Salam buat mama."
Sebenarnya niat Agus bukan hanya meminta maaf. Ada maksud lain yang selama ini dia sebut dalam doanya.
"Hai Gus. Baik kok. Ini aku lagi main mercon sama keponakan di rumah eyang. Sama-sama ya, Gus. Maaf juga kalau aku ada salah. Sering ngomel sama kamu, marah-marah gak jelas. Salam balik tuh dari mama."
Hangat benar balasan dari Siti. Belum lama ini Siti marah besar kepada Agus hingga rusaklah hubungan mereka berdua.
Singkat cerita, mereka berdua balikan. Subhanallah, berkah Ramadhan. Berkah saling memaafkan di bulan Syawal. hehe
"Hai, apa kabar? Lebaran di mana nih? Cuma mau ngucapin minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir batin. Maafin ya kalo aku banyak salah sama kamu. Sering buat kamu bete, nyebelin. hehe. Salam buat mama."
Sebenarnya niat Agus bukan hanya meminta maaf. Ada maksud lain yang selama ini dia sebut dalam doanya.
"Hai Gus. Baik kok. Ini aku lagi main mercon sama keponakan di rumah eyang. Sama-sama ya, Gus. Maaf juga kalau aku ada salah. Sering ngomel sama kamu, marah-marah gak jelas. Salam balik tuh dari mama."
Hangat benar balasan dari Siti. Belum lama ini Siti marah besar kepada Agus hingga rusaklah hubungan mereka berdua.
Singkat cerita, mereka berdua balikan. Subhanallah, berkah Ramadhan. Berkah saling memaafkan di bulan Syawal. hehe
Minggu, 03 Agustus 2014
Cupu!
"Di Jogja ndak? Temenin makan yuk. Males nih makan sendirian."
Baris kalimat itu sudah terketik indah di layar ponsel Tejo, menunggu untuk dikirim ke Surti. Berpikir ribuan kali, Tejo akhirnya mengurungkan niatnya. Tombol back yang dia putuskan untuk ditekan. Makan malam kali ini pun berakhir di warung Burjo Katineung milik Teh Yeyen.
Suram. :(
Baris kalimat itu sudah terketik indah di layar ponsel Tejo, menunggu untuk dikirim ke Surti. Berpikir ribuan kali, Tejo akhirnya mengurungkan niatnya. Tombol back yang dia putuskan untuk ditekan. Makan malam kali ini pun berakhir di warung Burjo Katineung milik Teh Yeyen.
Suram. :(
Sabtu, 19 Juli 2014
That's How Reality is
People don't look at your personality first. They judge you automatically by your looks and then try to get to know you personally. But the second they don't like your looks, they don't get to know you. That's how reality is.
Minggu, 08 Juni 2014
Maybe...
Sometimes you’re sitting on your bedroom floor with your teeth chattering so hard you’re convinced they’re going to break and fall out of your mouth so you find a blade under your mother’s bathroom sink and you drag it across your wrist until the numbness and hurt spills out of you onto the carpet. You don’t really realize how bad the scar will be. You don’t really see the impact of what you did until it’s the middle of July and you’re sweating through your long sleeve shirt and you’re wiping the wetness off your forehead and the tears are dripping onto your tongue and you finally see that it’s not going to go away. You really fucked yourself over. You can’t erase it.
Maybe that’s why I fell for you without a second thought.
Rabu, 04 Juni 2014
Daijoubu desu..
""Kamu akan baik-baik saja" adalah kata-kata yang bagi saya menentramkan untuk didengar dari orang lain. Meskipun pada akhirnya mungkin sesuatu tidak berjalan baik-baik saja, tetapi "kamu akan baik-baik saja" dapat menguatkan. Kata-kata tersebut membuat saya setidaknya percaya bahwa pada akhirnya saya akan baik-baik saja. Bukankah semuanya memang akan baik-baik saja pada akhirnya? Jika tidak baik-baik saja, berarti itu bukanlah akhirnya. Kata-kata "kamu akan baik-baik saja" mendamaikan kegundahan, menjadi pelipur kecemasan, membuat saya bertahan hingga keadaan berakhir dengan baik-baik saja."
Be Ready
Hey, its me again. Lagi pengen nulis pengalaman nih. Bukan cerita fiksi berlatar belakang manga.hehe
Entahlah harus dimulai dari mana, yang jelas semakin hari saya semakin resah (cieilahh resah) dengan apa yang akan terjadi setelah lulus. Ya mungkin keresahan ini dialami hampir seluruh mahasiswa tua yang akan segera lulus. (walaupun skripsi pun saya belom mulai.hhe)
Jadi ceritanya hari ini saya barusan pergi dengan teman-teman seangkatan di IPFTI. Maklum, mahasiswa IP yang hanya sedikit apalagi di Department Industrial Engineering jadi ya kalo ngumpul kita cuma sedikit. Tapi kerasa banget ketika kumpul kita mulai menceritakan keresahan masing-masing.
Mahasiswa IPFTI angkatan 2010 berjumlah 14 ekor dan yang 3 sedang double degree di Thailand. Dunia mahasiswa yang penuh dengan seleksi alam mengakibatkan tinggal 7 penantang tersisa yang masih kuliah bareng sejak terakhir semester kemarin. (karena semester ini kita sudah ndak ada kuliah).
Dari 7 orang tersisa itulah sudah mulai terdengar keluhan dari masing-masing kita. Termasuk saya. Ada yang olahdata skripsinya udah kelar tapi dia males ngetik naskah skripsinya, ada yang masih bingung menentukan tempat kerja praktek, ada yang udah kerja praktek tapi laporannya gak kelar kelar, ada yang baru mulai nulis paper buat tahap awal thesisnya. Pokoknya macem-macemnya keluhannya. Dari situ saya mulai berpikir, bagaimana kita 10 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi, bagaimana hidup kita, menikah dengan siapa kita, dan pertanyaan-pertanyaan klise tentang kehidupan yang sebenarnya kelak.
Intinya adalah, semakin kesini semakin berat tantangan yang dihadapi. Gak cuman tugas kuliah atau berantem sama pacar; lebih keras dari itu xob.
In the end, tetap kita yang menentukan akan seperti apa hidup kita kelak. Yang jelas saya atau mungkin kita harus siap dengan masa depan yang dinamis, yang fluktuatif, dan tidak bisa diprediksi. BE READY! ^^/
Entahlah harus dimulai dari mana, yang jelas semakin hari saya semakin resah (cieilahh resah) dengan apa yang akan terjadi setelah lulus. Ya mungkin keresahan ini dialami hampir seluruh mahasiswa tua yang akan segera lulus. (walaupun skripsi pun saya belom mulai.hhe)
Jadi ceritanya hari ini saya barusan pergi dengan teman-teman seangkatan di IPFTI. Maklum, mahasiswa IP yang hanya sedikit apalagi di Department Industrial Engineering jadi ya kalo ngumpul kita cuma sedikit. Tapi kerasa banget ketika kumpul kita mulai menceritakan keresahan masing-masing.
Mahasiswa IPFTI angkatan 2010 berjumlah 14 ekor dan yang 3 sedang double degree di Thailand. Dunia mahasiswa yang penuh dengan seleksi alam mengakibatkan tinggal 7 penantang tersisa yang masih kuliah bareng sejak terakhir semester kemarin. (karena semester ini kita sudah ndak ada kuliah).
Dari 7 orang tersisa itulah sudah mulai terdengar keluhan dari masing-masing kita. Termasuk saya. Ada yang olahdata skripsinya udah kelar tapi dia males ngetik naskah skripsinya, ada yang masih bingung menentukan tempat kerja praktek, ada yang udah kerja praktek tapi laporannya gak kelar kelar, ada yang baru mulai nulis paper buat tahap awal thesisnya. Pokoknya macem-macemnya keluhannya. Dari situ saya mulai berpikir, bagaimana kita 10 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi, bagaimana hidup kita, menikah dengan siapa kita, dan pertanyaan-pertanyaan klise tentang kehidupan yang sebenarnya kelak.
Intinya adalah, semakin kesini semakin berat tantangan yang dihadapi. Gak cuman tugas kuliah atau berantem sama pacar; lebih keras dari itu xob.
In the end, tetap kita yang menentukan akan seperti apa hidup kita kelak. Yang jelas saya atau mungkin kita harus siap dengan masa depan yang dinamis, yang fluktuatif, dan tidak bisa diprediksi. BE READY! ^^/
Senin, 21 April 2014
Musim Semi Sounds Good
Aoi melepas earphone di telinganya; menoleh dan dia
tersadar bahwa yang menepuk bahunya dari belakang adalah Takeshi, kakak kelas
yang dia sukai dan juga seorang kapten tim sepak bola SMU Hakata.
“Aoi, tak kusangka kita bisa bertemu disini.” Kata
Takeshi sambil tersenyum “kau mau pulang? Dari stasiun ini juga?”
Sore itu, angin bertiup manja. Membuat daun-daun yang
sudah berguguran menari lemah di lantai halaman stasiun. “ngg..i..iya senpai,
setiap hari aku pulang dari stasiun ini.” Aoi merasa panas ditubuhnya
meningkat, padahal sedang musim semi saat itu.
Sambil menggaruk rambutnya yang berantakan dan membenahi
pegangan tas di pundaknya, “wah, kenapa baru sekarang kita bertemu ya? Kalau
begitu, yuk kita pulang bersama mulai sekarang. Dan satu lagi, jangan panggil
aku senpai. Panggil saja Take.”
“Apa? Pulang bersama senpai? Ummm...maksudku Take-kun?”
seketika dada Aoi pun berdegup kencang dan rasanya ia ingin berteriak saat itu
juga.
“mengapa? Kamu keberatan? Atau kamu ada kegiatan lain
setelah pulang sekolah?”
“ti..tidak, Take-kun. Aku sangat senang bisa ditemani
oleh Take-kun setiap pulang sekolah. Eh, maksudku....”
“ahhhh, baiklah. Keretanya sebentar lagi tiba. Ayo
masuk.” Takeshi meraih tangan Aoi dan menariknya untuk berlari masuk kedalam
stasiun.
Entah apa yang dipikirkan Aoi saat itu. Dadanya berdebar;
bahagia. Dia berlari sambil tersenyum. Didepannya, yang menggandeng tangannya
adalah Takeshi; kakak kelas yang dia sukai sejak masa orientasi sekolah dan
juga salah satu senpai idola gadis-gadis kelas 2 di sekolah. Dia berharap dari
halaman stasiun sampai ke loket penjualan tiket beratus-ratus kilometer jauhnya
sehingga dia bisa terus berlari dengan Takeshi. Dia berharap waktu itu tidak
segera berakhir.
Rasanya keringat ditelapak tangan mereka saling menempel.
Menyatu. Seandainya hati kami juga menyatu seperti keringat di telapak tangan
ini. Mungkin itu yang dipikirkan Aoi sekarang.
Angin musim semi bertiup manja. Menambah sejuk suasana
hati Aoi. Masih berlari. Masih saling bergandengan. Takeshi mungkin tidak
menyadari bila Aoi sangat menyukainya sejak pertama Aoi masuk sekolah. Mungkin
Aoi juga tidak menyadari bahwa Takeshi sudah menaruh perhatian pada Aoi sejak
festival musim panas tahun lalu.
Perasaan memang tidak bisa ditebak. Siapapun tak akan
mengetahui isi hati seseorang. Suatu saat nanti, salah satu dari mereka akan
mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Dan mereka berdua akan menjadi
pasangan paling populer disekolah.
Langganan:
Komentar (Atom)